Bisnis Rintisan

 

Saat tulisan ini dibuat, Gojek, yang bernaung di bawah payung hukum PT. Aplikasi Karya Anak Bangsa telah berhasil menyandang status sebagai Decacorn, perusahaan start-up digital dengan valuasi lebih dari 10 Milyar Dolar! Satu-satunya perusahaan Indonesia dalam laporan terbaru dari CB Insights. Jangan salah menyangka. Valuasi ini lebih bersifat intangibles. Bukan nilai buku perusahaan atau kinerja emiten di pasar bursa. Metrics yang digunakan bersifat prediktif analitik seberapa bernilai suatu perusahaan dari sisi kekuatan Brand, Culture, Leadership, People, dan atribut kualitatif lainnya.

Tak seperti perusahaan pada umumnya, para start-up digital bisa saja mengalami kerugian operasional dalam hitung-hitungan bisnis konvensional. Namun karena modal finansial yang tersedia bisa dikatakan tak terbatas dari para shareholders mereka, maka kerugian itu tak menjadi soal selama valuasi perusahaan terus naik untuk ditawarkan selanjutnya kepada calon investor yang baru. Model bisnis ini bukanlah sekadar miliki produk untuk target market yang sesuai, berikan penawaran yang luar biasa, dan berikan pelayanan yang sangat istimewa.

Lebih dari itu start-up digital menuntut pertumbuhan yang tinggi atas penggunaan aplikasi mereka, ketersediaan big data analytics atas interaksi dari para pengguna, dan tentu saja keamanan yang benar-benar prima. Dunia baru ini bukan pula sekedar demam industri dotcom seperti yang terjadi pada medio 90an. Dunia yang sama sekali baru, mengantarkan umat manusia ke dalam disrupsi besar, antara lain di dalam dunia kerja, dengan menghilangkan beberapa pekerjaan rutin yang sederhana seperti cleaning service, satpam, kasir, customer service, call center, hingga akuntan atau biro jasa perjalanan wisata. Kita tidak akan membahasnya lebih lanjut. Fokus kita adalah membahas bagaimana kunci sukses dalam membangun bisnis rintisan.

Nadiem Makarim sang pendiri Gojek, atau Mark Zuckerberg sang pendiri Facebook, ternyata memiliki kesamaan. Apakah itu? Betul, kepemimpinan! Visi, motivasi, kreatifitas, kegigihan, dan sederet atribut kepemimpinan lainnya dari kedua pendiri perusahaan ini amatlah nyata terlihat. Lagi dan lagi, kepemimpinan terutama dari pemilik perusahaan, top management, adalah elan vital bagi semua organisasi, kunci sukses sejati. Lebih-lebih dalam upaya perintisan bisnis berbasis teknologi yang pasti high effort sekaligus high risk.

Setiap hari di perusahaan start-up digital, ada saja perubahan yang terjadi. Prosedur, uraian jabatan, struktur organisasi, dll segala hal yang kaku tidak akan pernah bisa berlaku sebagaimana umumnya di perusahaan konvensional. Simplicity is power adalah filosofi utama mereka. Karenanya, pola rekrutmen para karyawannya pun menjungkirbalikkan statistik bertahun-tahun dalam praktek para pemberi kerja selama ini. Kandidat, tidak lagi dibaca dan ditelusuri sejarah hidupnya secara kronologis, apa yang sudah dilakukan, apakah pernah melakukan, dsb. Apalagi disuguhi dengan beragam macam psikotes, tes IQ, tes teknis, tes menggambar pohon, dsb. dalam berbagai bentuknya seperti paper test, computer based test, atau online test.

Sebaliknya, yang digali adalah nilai-nilai yang dianutnya, keunggulan tersembunyinya, talentanya. Kalau saja para investor pemula Gojek ataupun Facebook menggunakan cara dan perspektif lama dalam menilai Nadiem Makarim atau Mark Zuckeberg, tentu mereka tidak akan lolos mendapatkan pre-seed funding dst. Alih-alih tertarik, para calon investor itu malah bisa menertawakan, mengejek, atau menimpali mereka dengan label tukang mimpi, pembual, dsb.

Karena seperti kata Warren Bennis, leadership is like beauty, you’ll know it when you see it. Dan benarlah pula kata pepatah Cina, tanamlah padi untuk mendapat manfaat 1 tahun. Tanamlah pohon untuk mereguk manfaat 10 tahun. Tapi didiklah manusia untuk menuai manfaat selama 100 tahun. Pekerjaan rumahnya kemudian untuk para perekrut dan perusahaan, perbaruilah cara-cara dalam merekrut dan menyeleksi karyawan, menemukan para Nadiem Makariem dan Mark Zuckeberg selanjutnya, dimana potensi lebih berdaya guna dibanding seabrek torehan sejarah prestasi di masa lalu. Kita sambut disrupsi-disrupsi besar lainnya walau kini secara bisnis mungkin mereka masih berbentuk rintisan, bahkan katakanlah masih dalam tahapan ide-ide gila. Bukankah Apple, Google, Microsoft, awalnya juga dirintis dari sebuah garasi rumah? Eureka!



Leave a Reply

WhatsApp Chat Now