Lesu Darah

Seorang eksekutif muda baru saja direkrut oleh pejabat tinggi sebuah bank internasional. Dalam arahannya, sang pejabat meminta agar eksekutif muda ini membawa perubahan besar, proaktif memimpin perubahan layaknya transfusi darah segar yang dialirkan kepada mereka yang mengalami lesu darah. Sehingga ada perbedaan yang nyata signifikan antara sebelum kehadirannya dengan sesudah kehadirannya di perusahaan. Amanah yang sungguh sangat menantang, demikian terlintas di benak sang eksekutif muda.

Di hari pertama bekerja, dirinyapun langsung melakukan pemetaan persoalan dengan bertanya kepada atasan langsungnya. Apakah ada rencana kerja tahunan sehingga bisa dilihat mana yang sudah dikerjakan dan mana yang belum, bagaimana agar tetap bisa terlaksana sehingga target akan tercapai di akhir tahun, ataukah ada hal-hal yang perlu diperbaiki, ditambah, dikurangi, diganti, guna menyelaraskan peran fungsinya dengan keadaan yang sudah berjalan selama ini. Jawaban dari atasan langsungnya, mereka tidak punya rencana tahunan dan tidak pernah pula membuatnya. Tak berhenti disitu, sang eksekutif mengusulkan agar segera diadakan rapat untuk merumuskan rencana kerja tersebut dan sang atasanpun setuju.

Berhubung orang baru, tentu saja sang eksekutif menyimak sebanyak-banyaknya masalah yang ada di perusahaan sebagaimana diutarakan oleh atasannya. Selepas sesi brainstorming, ditanyakannya lagi kepada atasan, dari sekian persoalan manakah yang paling penting untuk dipecahkan. Jawaban sang atasan, semua persoalan yang ada sama pentingnya, semuanya harus dipecahkan sesegera mungkin. Tak puas, sang eksekutif menemui pejabat tinggi yang merekrutnya untuk mengungkapkan fenomena yang ditemuinya.

Kali ini pejabat tinggi menceritakan hal berbeda. Jangan mengharap akan ada rencana bila bekerja di perusahaan ini, tugas mereka hanyalah melayani para pemilik perusahaan. Apapun itu, layani dengan segenap usaha terbaik. Mereka lah yang harus menciptakan pekerjaannya sehari-hari, bukan mengharap arahan dari pemilik perusahaan. Bila tidak ada arahan sama sekali, lakukan apapun saja, sibuklah, buat sesuatu agar hari menjadi produktif. Itulah pola kerja mereka selama ini, setiap tahunnya. Dan bisa ditebak kemudian, belum genap selesai masa percobaan, sang eksekutif memilih untuk mundur tidak melanjutkan pekerjaannya lagi.

Bagaimana tidak? Kalau sekedar sibuk luar biasa hari demi hari namun tiada arah dan tujuan, doing so many things even very efficiently that is not needed to be done, tentu saja pilihan yang tepat sudah diambil oleh sang eksekutif tersebut. Integritasnya cukup tinggi untuk tidak sekedar memakan gaji buta di perusahaan. Inilah inti dari produktifitas. Waktunya yang sangat bernilai justru harus dihargai dengan profesionalisme, budaya kinerja, visi, makna mendalam, alasan dibalik kesibukannya. Why. Kata Buya Hamka, kalau kerja sekedar bekerja monyet dan kerbau juga bekerja. Lambat laun, dengan pola interaksi mempengaruhi-dipengaruhi, darah segar akan nir dampak kepada aliran bah yang besar.

Pelajarannya kemudian, bagi perusahaan dan organisasi manapun, janganlah menganggap orang baru, ‘darah segar’ itu bisa menyelesaikan persoalan apapun yang sudah berurat berakar di perusahaan kita. Karena bagaimana pun, sebenarnya, yang paling sulit bukanlah menerima ide-ide baru, tetapi melepaskan yang lama-lama terdahulu. Program kerja dan anggaran, prioritas pekerjaan, arahan strategis manajemen puncak, efektifitas tindakan, bukanlah suatu hal yang rumit. Dalam kasus tersebut di atas, subyek tidak berwenang memiliki power control yang besar untuk mengubah tetapi dituntut untuk menghadirkan perubahan-perubahan besar. Logika yang sangat tidak masuk akal. Perubahan di tingkat pertama adalah secara operasional, kemudian di tingkat kedua adalah strategik, tetapi yang paling tinggi adalah di tingkat ketiga, spiritual, nilai-keyakinan-kebermaknaan. Siapkah perusahaan dan organisasi kita?



Leave a Reply

WhatsApp Chat Now