Bermaknanya Hidup

Hans Selye, the father of stress, pernah melakukan penelitian besar, ribuan responden, lintas benua, mengungkap stresor tertinggi seorang manusia. Hasilnya, kehilangan orang yang dicintai merupakan stres yang tertinggi dari segenap masalah dan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Lebih tepatnya, kematian pasangan hidup yang kita cintai. Belakangan, duo perumus NLP, neuro linguistic programming, John Grinder dan Richard Bandler mengungkap hal yang lebih dalam. Nothing in life has any meaning except the meaning we give it. Bukan kematiannya, tetapi makna abstraksi kata, keyakinan, nilai dari kejadian ini di dalam fikiran seseorang lah yang memunculkan stres hingga depresi.

Sebagai contohnya, kematian di satu tempat dimaknai sebagai hal yang menyedihkan, dan semua keluarga berduka cita mendalam. Berkabung dalam suasana duka berhari-hari. Di lain tempat, malah dirayakan dengan musik nyanyian hingar bingar dan pesta pora seminggu berturut-turut, sebagai simbol bahwa yang meninggal tersebut sukses berhasil di dunia dan kepulangannya adalah sebuah syukur suka cita. Bahkan di pedalaman Afrika, meludahi muka seseorang merupakan eskpresi bahwa kita jatuh cinta dan suka kepada yang bersangkutan. Betapa tidak, keberadaan neo-korteks di dalam otak manusia, kemampuan untuk berfikir, dunia pemaknaan, itulah yang membedakan kita dengan hewan dan mahluk lainnya.

Para ahli meditasi yoga jauh sebelumnya pun telah lama menyelami dunia pemaknaan ini. Mereka kerap menganjurkan agar setiap dualitas yang ada di dunia ini dipandang bukan sebagai hitam dan putih, yin dan yang, tetapi semuanya berasal dari tarian agung yang sama dari Sang Maha Pencipta. Sehat – sakit, kaya – miskin, sukses – gagal, nasib baik – nasib buruk, dsb tidaklah dikenal, yang ada hanya kebaikan, kebaikan, dan kebaikan. Sungguh sebuah ajakan yang mendalam, meletakkan derajat kedudukan kita lebih tinggi dari fikiran kita sendiri. Di atas semuanya kita mampu untuk memilih, memberi makna, atas apapun juga. Bukan sekedar, bangun lagi, tidur lagi… Bangunnnn, tidur lagi… seperti lirik nyanyian mendiang Mbah Surip. Sebagaimana halnya senyum dari para holocaust survivor, pasien yang divonis mengidap kanker stadium 4, atau konglomerat yang jatuh miskin seketika. The power of choice, makna di atas peristiwa.

Para pakar menyimpulkan setidaknya ada 5 komponen hidup kita bermakna:

1. Tujuan hidup: memiliki arah, visi, cita-cita yang jelas dalam menjalani hidup di masa mendatang

2. Kepercayaan diri: merasa yakin untuk mencapai visi di masa depan dan mampu mengatasi rintangannya

3. Kebebasan memilih: mampu bertindak berperilaku secara bebas sesuai keinginan dengan penuh kesadaran

4. Komitmen akan nilai: memegang teguh prinsip dan filosofi, fundamental nilai-nilai, kompas keseharian

5. Kedamaian hati: siap menghadapi kematian kapanpun dimanapun, perasaan puas sejahtera terhadap hidupnya

“In the long run, we shape our lives, and we shape ourselves. The process never ends until we die. And the choices we make are ultimately our own responsibility.” ― Eleanor Roosevelt



Leave a Reply

WhatsApp Chat Now