Bisnis Kebermanfaatan

Indonesia yang kini berpenduduk sebanyak 269 Juta jiwa mengalami masalah yang sangat serius. Penduduk terus bertambah tapi luas lahan dan lautan tidak. Sumber daya alamnya juga demikian. Sementara penduduk yang banyak tersebut memerlukan peningkatan kesejahteraan. Cara-cara yang dilakukan saat ini di bidang apapun, belum tentu relevan untuk 5, 10, hingga 20 tahun yang akan datang. Apalagi dalam hal bisnis perusahaan. Bilamana bisnis hanya mengutamakan pertumbuhan tanpa kendali dan perhatian kepada masalah sosial dan lingkungan yang ada disekitarnya, tentu saja keberlangsungan negara dan bangsa lambat laun akan terancam pula.

Betapa banyak kerusakan lingkungan yang timbul akibat operasional bisnis yang semata berorientasi kepada keuntungan materi semata. Mulai dari kelangkaan air bersih, buruknya kualitas udara, timbunan limbah plastik yang tak dapat didaur ulang, frekuensi terjadinya banjir yang tinggi, konflik sosial horizontal antara buruh dan manajemen pabrik serta penduduk lokal dan para pendatang, serta banyak lagi contoh lainnya. Eksistensi perusahaan tidak terlepas dari keberlangsungan hidup masyarakat dan lingkungan. Berbisnis, dengan demikian, secara moral berarti memikul tanggung jawab yang luas kepada masyarakat.

Howard Bowen, adalah ekonom mula-mula yang menulis tentang hal ini pada 1953 dalam karyanya “Social Responsibilities of the Businessman”. Seiring perkembangan zaman, konsep ini makin terkemuka pada 1970-an dan mencapai puncaknya pada 1990-an setelah John Elkington menulis buku “Cannibals with Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business”. Tanggung jawab sosial perusahaan dikemasnya ke dalam 3 fokus P, yakni Profit, People, dan Planet. Perusahaan yang benar adalah yang tidak semata mengejar keuntungan ekonomi (profit), tetapi peduli terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people). Porter dan Kramer menjelaskan lebih lanjut bahwa istilah Corporate Social Responsibility adalah sama halnya dengan Corporate Sustainability, Sustainable Business, Corporate Conscience, Corporate Citizenship, Conscious Capitalism, atau Responsible Business.

UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, UU No. 23 Tahun 1997 Tentang Lingkungan Hidup, dan UU No. 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara, mengatur bahwa CSR adalah kewajiban hukum, khususnya bagi setiap perusahaan yang berhubungan dengan Sumber Daya Alam dan BUMN yang mengalami keuntungan usaha melalui Program Kemitraan Bina Lingkungan. CSR sebagai kewajiban berarti, cara berkontribusinya diserahkan ke perusahaan masing-masing. Jadi jika perusahaan menimbulkan polusi suara bising mesin produksi misalnya, membangunkan sekolah dan puskesmas di desa tempat beroperasinya pabrik itu adalah dapat dianggap sudah menjalankan CSR. Padahal sama sekali tidak mengurangi dampak polusi suara bising mesin produksinya.

ISO 26000 yang disepakati oleh lebih dari 100 negara di dunia memberikan panduan yang lebih konkret. Yaitu bahwa setiap perusahaan sudah harus memikirkan dampak dari apapun keputusan bisnisnya bagi masyarakat dan lingkungan dan dilakukan secara etis serta transparan. Karena kepatuhan hukum semata, aktifitas filantropi, atau pemberdayaan masyarakat sekitar, tanpa berkontribusi kepada akar perubahan yang dibutuhkan masyarakat, hanyalah CSR dalam tingkatannya yang paling rendah.

Seyogyanya perusahaan dapat berkontribusi lebih tinggi lagi yaitu dengan cara memitigasi resiko dari bisnis yang dijalankannya terhadap lingkungan dan masyarakat. Mencegah kerusakan lingkungan, meminimalisir dampak kerugiannya yang timbul, atau mengintegrasikan konsep green company secara business process dari hulu ke hilir, mulai dari pengadaan bahan baku hingga aktifitas pasca penjualan dengan melakukan pendauran ulang limbah misalnya, dengan melibatkan seluruh mitra bisnis, adalah CSR yang sebenarnya, bukan sekedar memenuhi sekian persen kewajiban perundangan.

Pertanyaannya kini, sudahkah perusahaan dan organisasi kita berbisnis bertanggungjawab, hadir dengan sebenar-benarnya kebermanfaatan?



Leave a Reply

WhatsApp Chat Now